Apa itu K3?: Pengertian K3, Tujuan, Pelatihan, dan Rambu K3 Adalah

Apa itu K3?: Pengertian K3, Tujuan, Pelatihan, dan Rambu K3 Adalah – Manusia dalam hidupnya pasti memiliki kebutuhan. Jenjang kebutuhan manusia menurut Abraham Maslow yang paling dasar adalah kebutuhan fisik karena fisik yang kuat sangat berperan penting terhadap kelangsungan hidup manusia.

Selanjutnya adalah kebutuhan untuk perlindungan, bermasyarakat, penghargaan/harga diri, dan eksistensi.

Apa itu K3 Pengertian K3, Tujuan, Pelatihan, dan Rambu K3 Adalah
Apa itu K3 Pengertian K3, Tujuan, Pelatihan, dan Rambu K3 Adalah

Untuk memenuhi kebutuhan perlindungan terutama dalam bekerja, maka muncullah konsep K3. Kepanjangan dari K3 adalah Keselamatan dan Kesehatan Kerja. K3 adalah wujud untuk melindungi para pekerja dari sesuatu yang dapat membahayakan.

Lalu, sebenarnya apa itu K3 dan hirarki pencegahan?, apa tujuan K3 dan pelatihan K3?, dan apa saja rambu-rambu K3?. Semua Anda ketahui dalam penjelasan artikel ukulele ini. Mari kita simak!

Baca juga:

Pengertian K3 Adalah

Kepanjangan dari K3 adalah Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Dari kepanjangan tersebut dapat diketahui bahwa makna kepanjangan dari K3 adalah untuk membuat perlindungan tenaga kerja terhadap keselamatan dan kesehatan dalam lingkup kerja.

Pengertian K3 bersifat luas dengan landasan K3 yang berbeda-beda, ada yang berlandaskan dari filosofis, konstitusionil, sampai berdasarkan pada keilmuan.

Pengertian K3 juga terdapat dalam landasan konstitusionil, PP No. 50 Tahun 2012. Dikatakan K3 adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi keselamatan dan kesehatan tenaga kerja melalui upaya pencegahan kecelakaan akibat kerja (KAK) dan penyakit akibat kerja (PAK).

Adapun pengertian K3 secara filosofis adalah pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan tenaga kerja dan manusia baik jasmani dan rohani, sehingga menuju mayarakat yang adil, makmur dan sejahtera.

Maksud dari jasmani terkait dengan fisik bagaimana cara mencegah agar tidak terjadi kecelakaan kerja yang dapat melukai fisik, sedangkan maksud rohani yaitu terkait dengan bagaimana melindungi tenaga kerja terhadap lingkungan kerja yang buruk seperti penyesuaian jam kerja atau maksimal kerja lembur, serta melindungi dari kebisingan.

Hal tersebut karena kebisingan dan waktu kerja yang lama akan berbanding lurus terhadap tingkat stress yang dialami pekerja sehingga akan berdampak pada kesehatan tenaga kerja dan kemajuan produktifitas perusahaan.

Selain itu, pengertian berdasarkan keilmuan, K3 adalah suatu ilmu pengetahuan dan ilmu terapan sebagai upaya untuk mencegah kecelakaan, kebakaran, pencemaran, penyakit, dsb. Inti dari K3 ini yaitu sebagai bentuk pencegahan atau preventif. Semua itu adalah untuk memenuhi kesejahteraan karyawan atau tenaga kerja.

Tenaga kerja yang sehat dan aman, akan meningkatkan produktivitas sehingga perusahaan dapat eksis dalam era industrialisasi dan pasar bebas.

K3 didasarkan pada komitmen nasional dari identifikasi masalah K3 yang umum terjadi yaitu: derajat kesehatan dan keselamatan pekerja yang masih rendah, pengetahuan pekerja tentang kesehatan dan keselamatan masih kurang, upaya kesehatan dan pelayanan yang belum merata, serta data dan informasi yang belum memadai.

Untuk itu, maka dibuatlah strategi komitmen nasional untuk memperkuat kebijakan dan pengetahuan K3 untuk mencapai tujuan K3.

Tujuan K3

Adapun tujuan K3 adalah sebagai berikut:

  • Alat untuk mencapai derajat kesehatan setinggi-tingginya bagi semua pekerjai baik itu buruh, petani, nelayan, pegawai, dan pekerja lainnya.
  • Untuk meningkatkan produktifitas pekerja dan efisiensi perusahaan. Hal tersebut karena K3 sebagai alat pencegahan, maka bermanfaat dalam keuntungan perusahaan dalam segi keuangan, karena jika terjadi kecelakaan kerja maka perusahaan perlu bertanggung jawab dengan memberikan asuransi dan tentu akan menurunkan produktivitas yang akan berpengaruh terhadap pendapatan perusahaan. Sebaliknya, jika menerapkan K3 maka perusahaan akan lebih produktif, karena angka absensi pekerja juga menjadi berkurang.
  • Mencegah timbulnya penyakit akibat kerja atau penyakit akibat hubungan kerja. Contohnya adalah pada masa pandemi saat ini, yaitu virus Covid-19, maka di lingkungan kerja perlu dilakukan pencegahan dengan melakukan protokol kesehatan, penyakit AIDS juga termasuk dalam penyakit akibat hubungan kerja yang bisa melalui darah dari penderita.
  • Efisiensi sumber daya manusia dan mesin. Tenaga kerja yang ahli dibidangnya merupakan aset SDM bagi perusahaan, maka perlu dilindungi sehingga efisien. Selain itu dalam kecelakaan kerja terkadang tidak luput akibat kesalahan manusia dalam memperlakukan mesin sesuai prosedur K3 sehingga mesin dapat rusak. Contohnya, dalam mengangkat alat ada petunjuk K3 mengangkatnya dalam posisi tubuh tertentu agar tidak kehilangan kendali (terkait ergonomis). Jika tidak dilaksanakan, alat tersebut beresiko jatuh kepada karyawan dan rusak.

Hirarki Pengendalian Bahaya K3

Pelaksanaan K3 dalam perusahaan perlu menerapkan konsep hirarki pengendalian bahaya. Hirarki ini berbentuk piramida terbalik dengan urutan dari yang paling atas adalah eliminasi, substitusi, rekayasa engineering, administrasi, dan APD. Berikut penjelasannya:

  • Eliminasi: menghilangkan potensi bahaya langsung dari sumbernya.
  • Substitusi: menggantikan benda yang berpotensi bahaya.
  • Rekayasa engineering: menutup sumber bahaya atau memperbaiki.
  • Administrasi: menggunakan prosedur dan rambu-rambu K3.
  • APD: menghambat agar tidak kontak langsung dengan sumber daya yang membahayakan.

Semakin ke atas (eliminasi) proteksi dan keamanannya semakin tinggi jadi, dalam penerapannya hal yang perlu dipikirkan terlebih dahulu adalah bagian yang paling atas, kemudian jika tidak bisa diterapkan, barulah ke tingkatan selanjutnya.

Pelatihan K3

Untuk menjalankan program K3, maka diperlukan pemahaman K3 dari seluruh pekerja baik di level manajerial (atasan) maupun staff. Pembuatan program, pengawasan, penanganan, analisa, dan pelaksanaan K3 adalah tanggung jawab dan tugas pokok dari bagian jabatan HSE (Health, Safety, Environment) di perusahaan.

Seorang HSE memiliki tugas untuk membuat kebijakan dan implementasi dari kegiatan K3. Oleh sebab itu, supervisor HSE ini perlu untuk mengetahui dan memastikan segala hal yang terkait dengan K3 sehingga lebih baik jika sudah tersertifikasi menjadi ahli K3 umum oleh KEMNAKER dengan mengikuti pelatihan K3 umum.

Di dalam perusahaan sendiri, HSE atau tenaga K3 membuat program K3 di perusahaan yaitu dengan kegiatan rutin dan berkala. Kegiatan rutin program K3, yaitu:

  • Inspeksi.
  • Pengumpulan data.
  • Bimbingan, konseling, dan penyuluhan.
  • Pendidikan dan pelatihan K3.
  • Pemeliharaan

Adapun kegiatan berkala yang biasa dilakukan dalam perusahaan yaitu:

  • Pemeriksaaan kesehatan secara berkala.
  • Audit internal dan eksternal tentang K3

Berdasarkan kegiatan tersebut, sebagai HSE salah satu kegiatannya akan memandu dan melakukan pembinaan/pelatihan K3 terhadap karyawan.

Contohnya adalah pelatihan penggunaan APD (Alat Pelindung Diri) yang benar, pelatihan kepada pekerja dalam menanggulangi kebakaran dan evakuasi jika terjadi bencana, pelatihan K3 khusus kepada pekerja yang bekerja di ketinggian, dsb.

Setiap karyawan perlu untuk menerapkan K3 terutama yang berhubungan dengan pekerjaannya. Contohnya pelatihan K3 listrik untuk yang berkerja di listrik, pelatihan K3 pertambangan untuk perusahaan pertambangan, pelatihan K3 rumah sakit, dan sebagainya.

Hal tersebut dilakukan untuk mencegah dan mengurangi potensi bahaya yang dapat terjadi di lingkungan kerja. Oleh sebab itu, mematuhi dan pemahaman K3 tidak hanya dilaksanakan oleh HSE saja, tapi juga seluruh tenaga kerja perusahaan karena menyangkut keselamatan pribadi.

Dari semua pelatihan dan program K3 kemudian perlu dilakukan evaluasi program untuk menilai apakah program K3 berhasil atau tidak. Program dikatakan berhasil apabila:

  • Terjadi penurunan tingkat kecelakaan dan penyakit yang terkait baik secara kuantitatif, seperti jumlah dan frekuensi tenaga kerja yang kecelakaan maupun kualitatif, seperti tingkat keparahan.
  • Penurunan jumlah jam kerja yang hilang akibat terjadi kecelakaan kerja atau penyakit akibat kerja.

Rambu-rambu K3

Selain memberikan pelatihan dan sosialisasi terkait dengan program K3 di perusahaan, penting juga untuk memberikan rambu-rambu K3 sebagai pengendalian bahaya ketiga di sekitar lokasi kerja. Rambu-rambu K3 berisi simbol-simbol dan tanda peringatan terhadap sesuatu yang beresiko kecelakaan. Rambu-rambu K3 contohnya adalah:

Rambu-rambu K3 contohnya adalah
Rambu-rambu K3 contohnya adalah | www.sioforklift.com

Selain itu, bentuk, simbol dan warna pada rambu-rambu K3 memiliki makna yang saling berkaitan. Perbedaan makna rambu-rambu K3 adalah sebagai berikut:

bentuk, simbol dan warna pada rambu-rambu K3
bentuk, simbol & warna pada rambu-rambu K3 | www.sioforklift.com

Berdasarkan contoh rambu di atas, karakteristik rambu ada 3, yaitu: kata peringatan, logo pictogram, dan kalimat persuasif.

Baca juga:


Hal yang penting Anda ingat, yaitu kepanjangan dari K3 adalah Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang memiliki peranan penting serta wajib dipatuhi oleh semua lini. K3 merupakan wujud dari pemenuhan kebutuhan manusia yang fundamental yaitu kesehatan. Demikian penjelasan mengenai K3. Semoga bermanfaat!

Leave a Comment